Showroom & Pemasaran:
Darmo Permai Selatan 17/25 Surabaya 60226
Phone : (031) 7321364 (HUNTING)
Fax : (031) 7320243
HP : 08884996659
email : info@juraganbatik.com

Keranjang Belanja

Keranjang belanja kosong.

Currencies


 

Online Suport


Hubungi Costumer Service kami melalui Yahoo Messenger!
ngobrol2

Pembayaran



KCP Tanjung Perak, Surabaya
Account # 0190201334
a/n Eka Diah Susanti


KCP Kusumabangsa, Surabaya
Account # 0360-01-012253-50-8
a/n Eka Diah Susanti


a/n Eka Diah Susanti
Darmo Permai Selatan 17/25, Surabaya 60226

Statistik Pengunjung


Jumlah Pengunjung Sejak
1 Januari 2010:43075

Guest Online: 7
Visitors Counter
 
Budaya Batik PDF Print E-mail
Written by Eka widya   
Thursday, 01 July 2010 09:41

Budaya Batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

 

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Last Updated on Thursday, 15 July 2010 09:06